Kehidupan
adalah anugerah utama Illahi. Anugerah kehidupan memberi gambaran
kebesaranNya buat kita manusia, yang wajib kita syukuri dan hargai.
Internet adalah kemudahan buat umat manusia. Justeru itu,
manafaatkan ia untuk kesejahteraan diri kita dan umat sejagat.
Sentiasalah kita beringat, apa yang kita lakukan, akan dipertanggung
jawabkan pada kemudian hari.
Gunakan sebaik-baiknya kurnia Allah swt kepada kita. Halalkan
kegunaan akal, hati dan lidah pada perkara yang bakal membawa
kecemerlangan diri kita dunia dan akhirat. Kita hidup hanya sekali.
Sekali 'pergi' tak kan kembali. Buat baik berpada-pada, dan buat
jahat JANGAN sekali-kali. Kewujudan website penulisan2u dengan blog
sebagai wadah untuk meningkatkan nilai diri. Bermatlamatkan
penyatuan ummah dengan ciri-ciri kemurnian budi dan budaya. Walaupun,
dunia terus maju dengan teknologi, kita akan terus kekal dengan
akhlak dan jati diri insani.
Jakarta sore itu kelihatan mendung. Tidak seperti biasanya yang selalu panas dan memanggang perut bumi. Kali ini Jakarta terlihat suram. Awan berarak gelisah. Menyelimuti sebagian gedung pencakar langit. Membuat payung hitam di atas Kota Jakarta. Reva, seorang gadis remaja berusia enam belas tahun. Berdiri di sudut kamar dan membuka gorden kamarnya seraya menatap jauh sudut kota Jakarta. Melihat awan hitam yang semakin gelap. Mendung, dan sebentar lagi pasti akan turun hujan. Padahal Reva sangat menginginkan hari ini langit cerah dan penuh bintang di angkasa. Seperti keinginannya pada Daffa. Seorang remaja cowok yang telah mencuri hatinya. Ia ingin sekali memetik bintang itu di angkasa. Menaburkannya pada dinding-dinding hati yang suram, agar bersinar terang seperti bintang. Reva kembali memperhatikan langit yang tidak bersahabat. Kemudian mendesah pelan dengan napas yang semakin berat. "Huh... hujan lagi hujan lagi," desahnya pada diri sendiri, kemudian beringsut dari jendela kamar menuju pembaringannya dengan mata sayu. Sebulan yang lalu, dokter telah memvonis Reva. Bahwa penyakit akut yang dideritanya sudah memasuki stadium empat. Reva tidak dapat membayangkan hal itu terjadi. Sebuah kenyataan pahit yang menyita seluruh hidupnya. Reva menghela napas dengan berat. Ia bukan saja kehilangan orangtuanya, teman-teman sekolahnya, tapi juga Daffa, kekasihnya. Dan kehilangan segalanya yang pernah ia miliki. Betapa menyakitkan rasa kehilangan itu. Perlahan Reva meraih bingkai foto di atas meja belajarnya. Lama ia memperhatikan foto itu sambil terisak sedih. "Daffa, aku sangat mencintaimu," gumam Reva lirih. "Tapi akankah cintaku harus berakhir sampai di sini?" ucapnya sedih. "Revaaa...." Tiba-tiba saja sebuah suara membuyarkan lamunannya. Reva segera menghapus airmatanya dan menyahuti panggilan Mama. "Iya, M," sahutnya dengan suara parau. Kemudian ia beringsut membukakan pintu kamar. Terlihat mama memperhatikan Reva dengan wajah iba. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya mama setelah lama memperhatikan perubahan raut wajah Reva. Wajah Reva yang dulu segar dan merona kini sayu bagaikan bunga layu. Matanya yang bulat berbinar kini cekung dengan lingkaran hitam di seputar kelopaknya. Gadis cantik yang dulu lincah itu kini telah berubah menjadi gadis kuyu. Tidak lama lagi Reva akan berulang tahun yang ketujuh belas. Namun kebahagiaan itu mendadak saja sirna. Penyakit yang tiba-tiba saja menggerogoti tubuhnya kian merebak. Penyakit itu mengubah seluruh raga Reva. Tubuhnya yang sintal kini seperti kayu kering. "Reva nggak apa-apa kok, Ma," jawab Reva parau, mengurai dusta. "Kamu sudah minum obat?" tanya Mama dengan lembut sambil mengelus rambut Reva yang mulai rontok. "Sudah, Ma," ucap Reva sendu. "Kamu istirahat ya, Sayang. Kamu harus tegar," kata Mama dengan suara sumbang, menahan gumpalan airmatanya agar tak tumpah di depan Reva. Ia sudah nyaris tak sanggup melihat menderitaan yang dialami Reva. Tapi tetap saja. Tetap saja air bening itu menetes di pelupuk matanya tanpa dapat dibendungnya. Putrinya memang sangat menderita! "Mama menangis?" tanya Reva pelan. "Nggak, Sayang. Mama nggak menangis, kok. Kamu istirahat, ya?" dalih Mama seraya menghapus airmatanya lekas. "He-eh," Reva mengangguk seraya tersenyum tipis. Kemudian Mama beringsut dari tempat tidur Reva, berlalu dari kamar sambil terisak pelan. Reva menutup kembali pintu kamarnya. Dari balik pintu, Mama terisak sedih. Sedih sekali. Mengapa hal ini harus terjadi pada Reva. Anak satu-satunya yang sangat mereka sayangi. Mengapa bukan ia atau Papa saja yang mengalami hal itu. Mama tersedu sambil masuk ke kamarnya. Reva mendesah seraya berdoa. "Ya, Allah, jika aku boleh meminta satu permintaan sekali saja, berikan aku kehidupan, izinkan aku menunggu hingga tahun depan. Ya, Allah hidup dan mati ada di tangamu. Salahkah aku jika aku meminta itu?" Reva meratap lirih. Tetes-tetes air bening berkali-kali membanjiri matanya. Menawarkan lagi kesedihan di hatinya. Reva menatap langit hitam lewat jendela kamarnya. Mengenang kembali wajah sahabat-sahabatnya di sekolah. Kekonyolan mereka, tawa canda mereka dan banyolan mereka yang membuat hati Reva selalu terhibur. Ah, ingin rasanya Reva kembali ke sekolah. Bermain dengan mereka, bercanda dan menggoda cowok-cowok tajir di sekolahnya. Neyla, Mutia dan Rindu. Mereka sahabat kental Reva. Persahabatan yang mereka pupuk sejak tiga tahun yang lalu, kini berbuah kegetiran yang mereka rasakan bersama. Betapa sedihnya hati ketiga sahabatnya ketika mengetahui Reva tidak akan pernah bersama mereka lagi. Mungkin ini adalah jalan terbaik buat Reva. Angin berhembus tipis. Menyapu seluruh bangunan pencakar langit di kota Jakarta. Mengibaskan gorden merah muda di kamar Reva. Menyentuh sekulit halus yang kini mulai kisut. Reva terbaring lemas di tempat tidur. Ia tidak boleh berpikir terlalu keras. Meski memikirkan hal sekecil apa pun. Malam pun merambat jauh. Menelan seluruh mimpi-mimpi Reva. Hujan turun semakin deras. Reva mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Mencoba menikmati hawa dingin udara yang senantiasa menyibakkan rambutnya jika berdiri di sudut jendela. Tapi dingin kali ini malah menggiris, dan seperti membekukan ia dalam sunyi. Perlahan ia menutup jendela kamarnya sambil menjaring asa dalam diam termenung, sejenak. \'Akankah hari esok lebih indah dari hari ini?\' bisiknya pelan. Diseretnya langkah undur. Dibaringkannya kembali tubuhnya yang lemas di atas tempat tidur. Dan dalam diam pula, ia tertidur pulas menanti hari esok yang lebih berarti. *** Seminggu telah berlalu. Reva masih melamun di kamarnya. Daffa yang dikenalnya setahun yang lalu selalu saja mengusik hatinya. Reva sangat mencintai cowok itu. Tapi ketika Daffa tahu kalau Reva mengidap penyakit kanker, Daffa kontan saja berpaling dari Reva. Reva melenguh pelan. Setiap mengingat kejadian itu, ada rasa sakit yang merancap hatinya. Sakit. Sangat sakit! Siang itu di sekolah, Reva mendadak saja jatuh pingsan. Beberapa siswa panik dan segera membawa Reva ke rumah sakit. Beberapa di antara mereka adalah Daffa, yang begitu panik ketika Reva pingsan mendadak. Setelah beberapa saat Reva siuman, seorang dokter menghampirinya dan berkata sehati-hati mungkin. "Kamu yang sabar ya, yang tabah. Hadapi semua kenyataan pahit ini dengan tulus, walau berat untuk menerimanya," ucap sang Dokter ragu. Perkataan itu membuat Reva bertanya penasaran. Reva mengerutkan kening seraya bertanya dalam hatinya. "Apa maksud Dokter?" tanyanya sendu. "Kamu, em...." Dokter itu menghentikan kata-katanya. "Saya kenapa, Dok?" tanya Reva lagi. "Kamu terserang kanker. Dan sekarang kanker itu telah bersarang di tubuhmu. Kami tidak dapat melakukan apa-apa selain menunggu mukjizat Tuhan." Oh, Reva mendesah sedih. Menangis dengan pilu. \'Kanker? tidak, itu tidak mungkin. Secepat itukah peranku dalam kehidupan ini?\' gumamnya sedih. Reva berusaha mengungkapkan hal itu ke Daffa. Namun Daffa tidak percaya. Daffa tidak dapat menerima kenyataan pahit itu. "Itu tidak mungkin, Reva. Mungkin saja analisa dokter itu salah. Bisa saja, bukan?!" "Dokter nggak mungkin salah, Daff. Aku sudah merasakan perubahan pada diriku. Aku sering merasa pusing, dan beberapa kali aku terjatuh pingsan." Daffa mendesah lagi. Kemudian terdiam dan hening. Reva menatap lekat ke arah Daffa. Namun Daffa berpaling dari tatapan itu. Dua hari setelah pengakuan Reva ke Daffa, sikap Daffa pun mendadak saja berubah. Siang itu Daffa tidak lagi menunggu Reva di sekolah. Tidak lagi mengantarkan Reva sampai di rumah. Daffa pergi begitu saja. Daffa seakan terburu-buru meninggalkan gedung sekolahnya tanpa memikirkan perasaan Reva. Reva yang melihat kenyataan pahit itu seakan teriris pedih. Hatinya seakan tercabik-cabik oleh binatang buas yang sangat kejam. Daffa tidak lagi mencintainya. Benarkah Daffa telah berpaling darinya? Reva menangis sedih. Ia menggigit bibirnya berkali-kali. Suatu hari Reva mempergoki Daffa membonceng seorang gadis di belakang sepeda motornya. Gadis itu tak lain sahabat Reva sendiri. Reva menangis sedih dan pilu. Kemudian menatapi wajahnya di cermin kecil yang selalu di selipkan di dalam tas sekolahnya. Wajahnya tampak kusam dengan garis-garis halus yang menggurat di pelupuk matanya. Rambutnya juga mulai berguguran hingga sebagian kepalanya terlihat membotak. Reva menghapus tetes air bening yang membasahi pipinya. Kemudian berjalan sambil menundukkan kepalanya. "Sudahlah, Re, jangan bersedih. Mungkin Daffa memang tidak mencintai kamu," hibur Mutia memberi ketegaran batin ke Reva. *** Sebulan terus berlalu. Reva masih terlihat di kamarnya sambil termenung. Berbaring dengan kondisi yang semakin memprihatinkan. Kini Reva terbaring lemas dengan sisa tenaganya. Selang infus dan beberapa peralatan medis melekat di tubunya. Selang oksigen pun melekat di hidungnya. Sore itu mendadak saja suhu tubuh Reva meninggi. Reva koma tak sadarkan diri. Seketika saja Papa panik, dan segera membawa Reva ke rumah sakit. Namun karena panasnya terus meninggi akhirnya Reva dipindahkan ke ruang ICU. Keadaanya semakin parah dan kritis. Mama menangis tersedu. Beberapa kali Mama melihat putrinya yang terbujur di pembaringan. Tertidur dengan senyum yang tertahan. Tak tega melihat penderitaan yang harus dialaminya. Tak sengaja Mama menemukan secarik kertas dari tangan Reva. Reva menggenggamnya erat saat kritis itu belum terjadi. Lalu perlahan Mama berusaha membuka genggaman surat dari tangan Reva. Selembar amplop kertas putih bertuliskan tangan Reva. Mama segera membukanya dan membacanya lamat. Mamaku sayang, Papaku tercinta.... Maafin Reva, ya. Reva nggak bisa menemani Papa dan Mama. Reva lelah dan Reva nggak berdaya. Reva sudah nggak kuat menahan sakit ini, Ma. Mungkin umur Reva hanya sampai di sini saja. Sebentar lagi Reva ulangtahun. Reva nggak menginginkan apa-apa. Reva hanya ingin Papa dan Mama tabah menghadapi semua cobaan ini. Meski Reva harus pergi, itu semua kehendak Ilahi. Papa, Mama.... Reva sangat menyanyangi Papa dan Mama. Untaian kata-kata itu seakan meleburkan perasaan Mama. Mama menangis lagi dengan sedihnya. Meronta sambil berhambur di tubuh Reva. Mengguncang tubuh itu berkali-kali. Namun Reva tetap diam dan tertidur. "Reva, jangan tinggalkan Mama, Nak! Hu-hu-hu...," ratap Mama menangis tersedu. Dari sudut koridor terlihat Daffa berlari tergopoh-gopoh. Napasnya tersengal dengan keringat mengucur deras di wajahnya. Kemudian berhenti di ruangan Reva. Menghampiri tempat tidur Reva sambil melihat tubuh Reva yang sudah tidak berdaya. Memperhatikan tubuh Reva yang mulai kisut. Mata Daffa pun terlihat sembab dan nanar. Daffa berjalan tertatih mendekati Reva yang tertidur dengan senyuman yang tenang. Kini hatinya terenyuh dengan kata-kata Reva lewat tulisan. Sehari yang lalu Reva menitipkan surat untuk Daffa. Saat itu batin Daffa seakan teriris pedih mengingat tulisan tangan Reva. Daff... maafin aku, ya? Aku tahu kau kecewa padaku. Namun jangan biarkan hatimu membeku karena cintaku. Aku mencintaimu setulus hatiku. Aku ingin memeluk dirimu, ingin hidup bersamamu, namun aku tak sanggup. Aku tak berdaya. Aku tak lagi bisa melihatmu. Kau telah memilih jalan yang terbaik. Lupakanlah aku. Tinggalkanlah diriku. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia. Aku sangat mencintaimu. Kelak, jangan tangisi kepergianku. "Revaaa...." pekik Daffa tertahan. Tangannya mengelus jemari Reva dengan lembut. "Jangan tinggalkan aku, Re. Aku sangat mencintaimu," isak Daffa akhirnya. Perlahan, ingatan silam pada kenangan bersama Reva mengiang kembali. Dulu Daffa pernah berjanji akan memberikan seribu bintang buat Reva, ketika Reva melamun menatap bintang yang bertebaran di angkasa. Ya, ya Daffa mengingat kembali kenangan itu. "Aku ingin sekali menggapai bintang itu, Daff," ucap Reva ketika itu. "Aku akan membawakanmu seribu bintang, Rev. Aku janji," kata Daffa sambil merengkuh tubuh Reva. Reva tersenyum kecil. "Tidak perlu, Daff. Aku hanya menginginkan tujuh belas pendar bintang," ucap Reva penuh harap. Namun janji itu belum juga terpenuhi sampai Reva koma di ruang ICU. Daffa terisak lagi. Tetes-tetes air bening menjadi sebuah nestapa yang hitam. Suasana di ruang itu semakin membahana karena isak tangis Mama, Papa dan Daffa. Reva perlahan menggerakan jemari tangannya. Mempertandakan kalau dia mendengar ucapan-ucapan mereka. Reva membuka matanya dengan sayu dan berat. Menatap seseorang di depannya. "Daff...." serunya pelan. Daffa tertegun dan tersenyum tipis sambil menyeka airmatanya. "Kenapa kamu menangis?" tanya Reva dengan suara lirih. "Aku nggak menangis, Re. Lihat nih senyumku," ucap Daffa seraya menahan airmatanya. Namun segelintir air bening jatuh tak sengaja. "Reva, maafkan aku, ya? Aku telah membuatmu menderita," ucap Daffa dengan suara parau. Jemari telunjuk Reva mendarat di bibir Daffa. "Jangan ucapkan itu, Daff." "Aku mencintaimu, Reva." Reva tersenyum tipis. Senyumannya tak semanis dulu. "Aku membawa tujuh belas pendar bintang buat kamu," kata Daffa dengan suara semakin parau. Kemudian menunjukan kantongan plastik bening ke Reva. Reva tersenyum berat. Tak lama Daffa membuka kantongan plastik berisi tujuh belas kunang-kunang yang sesaat berterbangan di ruangan itu. Kunang-kunang dengan lampu warna-warni. Kelihatan indah seperti bintang di langit. Tujuh belas pendar bintang itu adalah lambang kehidupan Reva. Reva menatap kagum sambil tersenyum tipis. "Makasih ya, Daff," ucapnya semakin lirih. Namun mendadak saja Reva mengejang dengan dibarengan sesak napas. Matanya terbelalak seakan menahan sakit yang tiada terkira. Daffa panik sambil mengguncang tubuh Reva. Mama histeris memanggil dokter yang menangani kasus Reva. Berharap Reva masih dapat diselamatkan. Namun takdir berkata lain. Setelah pemeriksaan denyut nadi sang dokter pun keluar dengan wajah muram. "Maafkan saya. Bapak dan Ibu harus tabah menghadapinya," ucap sang Dokter, berusaha menegarkan hati Mama dan Papa. "Reva telah pergi untuk selamanya." "Tidaaaakk!" jerit Mama histeris. Mama menangis sedih di pelukan Papa. Sedangkan Daffa berteriak dengan histeris menyaksikan kepergian Reva, kekasih yang sangat ia cintai. "Jangan tinggalkan aku, Re...." Di ruangan itu, kunang-kunang masih menari dengan kerlip indah cahayanya. Reva turut menari setelah lepas dari raganya. Ia bahagia. Menari bersama kunang-kunang lalu pergi menuju langit penuh gemintang.
aduh, terluka jiwa bacer coretan mu. congrat's writer :)
Catat Ulasan
TINGGALKAN ULASAN DAN KOMEN, PADA SETIAP KARYA YANG ANDA BACA Penulis memerlukan ulasan dan komen, bagi memperbaiki penulisan dan memperbetulkan kesilapan. Komen dan ulasan anda akan memberi satu semangat kepada penulis, untuk terus menulis karya dan seterusnya menghasilkan karya yang menarik. Kerjasama & sokongan daripada pembaca amat kami hargai. Sebab itulah kami menyediakan HADIAH, sebagai penghargaan kepada penulis dan juga kepada pembaca yang aktif memberi komen & ulasan
"Dia
hidup bukan kerana cinta. Dia hidup kerana
kehadiran Prince Charming yang menyelamatkannya.
Semuanya gara-gara dia mengoyak Carta Prince
Charming—carta misteri yang tiada sesiapa tahu
dari mana datangnya. Yang pasti, memang dia
langsung tidak percaya dengan sumpahan yang
dikatakan berkaitan dengan Carta Prince
Charming.
"Sumpahan puteri? Kau ingat ini cerita dongeng
ke? Puteri apa yang nak sumpah aku ni? Puteri
bunian? Puteri lindungan bulan?”
Desakan daripada Sofea membawanya ke Kelab Bola
Sepak. Di situlah Prince Charming berkumpul.
Tetapi hanya seorang sahaja Prince Charming yang
dicari-carinya. Namun, untuk mencari Prince
Charming bukanlah mudah, namun dia yakin, antara
mereka, pasti salah seorang adalah penyelamatnya.
Orang tu pun satu! Dah selamatkan nyawa orang,
tak reti-reti ke nak munculkan diri? Bukan ke
lagi senang kalau datang berdiri depan aku dan
cakap, Sayalah yang selamatkan awak daripada
kena langgar semalam. Finish! Tak adalah nak
panjangkan cerita sampai beratus muka surat
semata-mata nak cari Prince Charming!
Tajuk:
Prince Charming
Penulis: Ratu Bulan
Terbitan: Fajar Pakeer
Harga:
RM19.90
Ulasan:
NOVEL
HANGAT DIPASARAN
Pertemuan
pertama memberi impak yang berbeza kepada dua insan. Maria
malu mengenang, sedang Hisyam mahu mendekat. Maria semakin
resah apabila Hisyam terus-terusan mendesak. Dalam benci
ada rindu. Bijak Hisyam memujuk, mereka akhirnya disatukan.
Salina hadir menjadi duri dalam daging. Bagi Hisyam, gadis
itu ialah sahabatnya yang terbaik. Insan paling dipercayai.
Namun, dalam diam, Salina meracuni hubungan mereka. Salina
ada agenda yang tersendiri.
Semakin hari, semakin nipis rasa percaya Maria terhadap
Hisyam. Namun, dia tidak mungkin menghindar rasa kasih
yang sudah menebal. Demi menunaikan permintaan Maria,
Hisyam tega melamar Salina walau ada luka di hati.
Sanggupkah Hisyam menduakan Maria yang pernah dicintai
sepenuh hati? Dan, Maria, mampukah membiarkan suami
tersayang jatuh ke tangan Salina? Atau, Mariakah orang
ketiga yang tidak lagi diperlukan kehadirannya oleh Hisyam?
Penulisan2u
sedang
berkerjasama dengan Penerbit Novel bagi memberi peluang kepada penulis-penulis berbakat dan karya yang menarik.
Antara novel yang sudah di terbitkan
2 Pengulas paling AKTIF dengan memberi komen yang ikhlas dan
membina, pada setiap karya cerpen / novel di penulisan2u akan
menerima hadiah sebuah NOVEL.
•
Creative Enterprise Sdn. Bhd., sedang mencari manuskrip kanak-kanak atau remaja. Ini kerana pihak kami ingin memperluaskan dan memperbanyakkan bahan bacaan untuk kanak-kanak dan remaja. Di samping itu kami juga ingin memupuk minat membaca dalam kalangan kanak-kanak dan remaja.
( klik disini
)
•Karyaseni Enterprise ingin memaklumankan
kepada anda yang berminat untuk menghantar manuskrip
anda kepada KS untuk penilaian, sila email kan
sinopsis dan tiga bab awal ke alamat email berikut:
Manuskrip@karyaseni.my
•KarnaDya Solutions Sdn
Bhd. Anda minat menulis? anda berbakat, anda ada cerita
yang menarik, Anda Ada Karya Yang Ingin Diterbitkan?
hantarkan karya anda. Sebelum anda menghantarkan
manuskrip anda, sila hantarkan butiran berikut terlebih
dahulu melalui emel/pos. untuk maklumat lanjut (
klik disini )
•NB Kara Sdn Bhd dengan berbesar hati
menjemput mana-mana penulis yang merasakan diri mereka
layak menjadi penulis yang versatil, menghantar
manuskrip mereka kepada NB Kara Sdn Bhd. Tulisan anda
terlebih dahulu akan dinilai oleh penulis prolifik
Norhayati Berahim dan juga beberapa panel editor sebelum
diluluskan untuk terbitan.
(
klik disini )
•Jemari Seni Publishing. Anda minat menulis? anda berbakat, anda ada cerita
yang menarik, Anda Ada Karya Yang Ingin Diterbitkan?
Untuk tujuan pengiriman manuskrip, JEMARI SENI telah
menggariskan panduan kepada penulis-penulisnya. untuk maklumat lanjut (
klik disini )
•
Alaf 21 Sdn Bhd. Tahun 2008 bakal menjanjikan sinar
kecemerlangan seandainya karya anda terpilih untuk
diterbitkan oleh Alaf 21, penerbit novel tersohor di
Malaysia.
Jika
anda mempunyai salah satu manuskrip tersebut, kami ingin
menatap dan menilainya. Sekiranya sesuai, pihak kami
ingin menerbitkannya di bawah jenama ALAF21.
( klik disini)
•
tip kehidupan, zodiak, horoskop, petua, tip, puisi,
pantun, sajak, dan pelbagai artikel menarik layari di
http://istimewa2u.blogspot.com
•
Blog Berkaitan agama, topik-topik tazkirah, audio, video
ceramah, mendengar 114 surah Al-quran secara online,
radio-radio dakwah, layari di
http://dakwah2u.blogspot.com
•
Blog Media, Tv streaming online, radio streaming online,
surat khabar, rakaman drama, radio era, hot.fm, tv1,
tv2,tv3 dan lain-lain. layari di
http://mymedia2u.blogspot.com
•
Blog Koleksi cerita lawak, lucu, kelakar dan video lawak,
lucu dan kelakar. layari di laman
http://kelakar2u.blogspot.com
•
Laman web
syarikat penerbit novel Creative
Enterprise Sdn Bhd (CESB). Untuk melihat novel-novel
terbaru yang berada di pasaran, layari di
http://www.cesb.net.my
•
Laman web
syarikat penerbit
Kaki Novel
Enterprise. Untuk melihat novel-novel
terbaru yang berada di pasaran, layari di
http://www.kakinovel.com
•
Laman web
syarikat penerbit NB kara Sdn Bhd.
Dimiliki oleh penulis terkenal Norhayati Berahim, Untuk melihat novel-novel
terbaru yang berada di pasaran, layari di
http://www.nbkara.com.my
•
Laman web
syarikat penerbit Buku Prima Sdn Bhd.
Untuk melihat novel-novel
terbaru yang berada di pasaran, layari di
http://www.bukuprima.com.my
•
Laman web
syarikat penerbit novel
jemari Seni Publishing (JS Publishing). Untuk melihat novel-novel
terbaru yang berada di pasaran, layari di
http://www.jemariseni.com
•
Laman web syarikat penerbit novel Alaf21 Sdn Bhd
(alaf21). Untuk melihat novel-novel terbaru dari Alaf21
layari di
http://www.alaf21.com.my
•
Laman web syarikat penerbit novel Fajar Pakeer Sdn Bhd). Untuk melihat novel-novel terbaru layari di
laman
http://www.fajarnovels.com.my
Kata Kunci
koleksi novel, koleksi novel
cinta, novel, novel online, novel melayu, novel malaysia, novel terbaik,
novel cinta, novel masyarakat, cerpen, koleksi cerpen, koleksi cerpen
cinta, koleksi cerpen cinta remaja, cerpen baru, koleksi cerpen terbaru,
teratak cerpen, cerpen cinta, cerpen online, cerpen terbaik, cerpen
melayu, koleksi cerpen cinta malaysia, cerpen malaysia, cerita seram,
cerita, cerita cinta, cerita pendek, cerita melayu, cerita online
Malaysia Group
Blog
Koleksi
Cerpen & Novel proudly powered by Blogger. Best display view 1024x768.
Google Inc
Koleksi Cerpen
& Novel dari Malaysia, Indonesia, Singapore & Brunei
aduh, terluka jiwa bacer coretan mu. congrat's writer :)